Senin, 27 April 2020

PENYULUHAN KEHUTANAN UNTUK MEMBANGUN KELESTARIAN HUTAN


Pembangunan kehutanan berorientasi pada upaya menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan kemakmuran masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Terciptanya kelestarian hutan sangat tergantung pada aktifitas masyarakat di sekitarnya. Masyarakat sekitar hutan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari hutan secara berkesinambungan apabila hutan tempat mereka bergantung juga lestari. Pada saat ini kuantitas dan kualitas hutan mengalami penurunan di sebabkan karena adanya beberapa proyek pembangunan dan pemanfaatan hasil hutan yang tidak terkendali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, adanya illegal logging dan adanya kebakaran hutan. 
Penyuluhan kehutanan merupakan kegiatan yang stategis dan merupakan kebutuhan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk menjadi pelaku pembangunan hutan dan kehutanan terutama dalam mendukung berbagai kebijakan yang selalu dinamis untuk tujuan pelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat. Paradigma penyuluhan kehutanan kini telah bergeser dari penyuluhan kehutanan yang menekankan proses transfer teknologi dan informasi kearah penyuluhan kehutanan yang berorientasi pada upaya pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan bertujuan memandirikan masyarakat sehingga masyarakat dapat berperan aktif dalam pengelolaan hutan berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Pemberdayaan masyarakat sasaran terdapat indicator – indicator sebagai berikut
Ø  Masyarakat mau dan mampu melaksanakan penghijauan dan konservasi secara swadaya
Ø      Para pemuda berperan aktif dalam upaya penghijauan
Ø      Masyarakat tahu dan mampu mengaplikasikan kebijakan kehutanan
Ø   Sekolah – sekolah memberikan materi pendidikan kehutanan dan lingkungan kepada anak didiknya
Ø       Kelembagaan dan kapasitas masyarakat meningkat
Ø  Terbentuknya penyuluh – penyuluh swadaya masyarakat sebagai mitra Penyuluh Kehutanan
Penyuluh kehutanan sebagai bagian dari pembangunan kehutanan terus mengalami transformasi peran dan fungsinya. Di dalam melaksanakan tugasnya maka penyuluh kehutanan harus mempunyai kemampuan profesionalisme untuk memperdayakan masyarakat untuk melaksanakan dan mendukung pembangunan hutan dan kehutanan.
Penyuluhan kehutanan sebagai salah satu pilar utama pembangunan kehutanan dapat di rumuskan strategi baru yang tetap memberikan komitmen dan orientasi untuk pelayanan yang terbaik bagi petani. Penyuluhan kehutanan adalah upaya pemberdayaan masyarakat, pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, tekhnologi  sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Penyuluhan kehutanan memiliki kegiatan yang tertentu agar tujuan yang diinginkan (perbaikan-perbaikan teknologi, cara kerja dan tingkat kehidupan masyarakat tani hutan) dapat tercapai. Salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab setiap penyuluh kehutanan adalah mengkomunikasikan inovasi, dalam arti mengubah prilaku masyarakat sasaran agar tahu, mau dan mampu menerapkan inovasi demitercapainya perbaikan mutu hidupnya.
Dalam hubungan ini, perlu diingat bahwa sasaran penyuluh sangatlah beragam, baik mengenai karakteristik individunya, beragam lingkungan fisik dan sosialnya dan beragam pula kebutuhan-kebutuhannya, motivasi, serta tujuan yang diinginkannya. Dengan demikian, tidak ada satu metode yang selalu untuk diterapkan dalam setiap kegiatan penyuluhan kehutanan.
A. Prinsip-Prinsip Metode Penyuluhan Kehutanan
Satu hal yang harus diperhatikan oleh setiap penyuluh kehutanan sebelum menerapkan suatu metode penyuluhan adalah ia perlu memahami prinsip-prinsip metode penyuluhan yang dapat dijadikannya sebagai landasan memilih metode yang tepat.
Beberapa prinsip mertode penyuluhan kehutanan yang perlu diperhatikan oleh seorang penyuluh kehutanan adalah :
1. Pengembangan untuk berfikir kreatif
Melalui penyuluhan kehutanan , bukanlah dimaksudkan agar masyarakat sasaran selalu menggantungkan diri pada petunjuk, nasehat, atau bimbingan penyuluhnya. Tetapi, sebaiknya, melalui penyuluhan harus mampu dihasilkan masyarakat tani hutan yang dengan upayanya sendiri mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam memanfaatkan hutan, serta mampu mengembangkan kreativitasnya untuk memanfaatkan setiap potensi dan peluang yang diketahuinyauntuk terus menerus dapat memperbaiki mutu hidupnya.
Karena itu, pada setiap kegiatan penyuluhan, seorang penyuluhharus mampu memilih metode yang sejauh mungkin dapat mengembangkan daya nalar dan kreativitas masyarakat sasarannya.
2. Tempat yang paling baik adalah ditempat kegiatan sasaran
Dalam banyak kasus kegiatan penyuluhan kehutanan sebaiknya dilaksanakan dengan menaerapkan metode-metode yang dapat dilaksanakan dilingkungan pekerjaan (kegiatan) sasarannya, hal tersebut dimaksudkan agar:
a) Tidak mengganggu (menyita waktu) kegiatan rutinya.
b) Penyuluhan kehutanan dapat memahami betul keadaan sasaran, termasuk masalah-masalah yang dihadapi dan potensi serta peluang yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan mutu hidup mereka.
c) Kepada sasaran untuk ditunjukkan contoh-contoh nyata tentang masalah dan potensi serta peluang yang dapat ditemukan di lingkungan pekerjaannya sendiri, sehingga mudah dipahami dan diresapi serta diingat oleh petani.
3. Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya
Sebagai makluk sosial, setiap individu akan selalu berprilaku sesuai dengan kondisi lingkungan sosialnya, setidak-yidaknya akan berusaha menyesuaikan diri dengan prilaku orang-orang sekitarnya.
Karena itu, kegiatan penyuluhan kehutanan akan lebih efisien jika diterapkan hanya kepada warga masyarakat tani hutan, terutama yang diakui oleh lingkungannya sebagai panutan yang baik.
4. Ciptakan hubungan yang akrab dengan sasaran
Kegiatan penyuluhan adalah upaya mengubah prilaku orang lain secara persuasif dengan menerapkan system pendidikan. Hubungan pribadi yang akrab antara penyuluh dengan sasarannya akan memperlancar kegiatan penyuluhan itu sendiri.
Keakraban hubungan antara penyuluh dan sasaran ini menjadi sangat penting, karena dengan keakraban ini aka tercipta suatu keterbukaan mengemukakan masalah dan menyampaikan pendapat. Disamping itu, saran-saran yang disampaikan penyuluh kehutanan dapat diterima dengan senang hati seperti layaknya saran seorang sahabat tanpa ada prasangka atau merasa dipaksa.
5. Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan
Kegiatan penyuluhan adalah upaya untuk mengubah prilaku sasaran, baik pengetahuan, sikapnya atau keterampilannya. Dengan demikian, metode yang diterapkan harus mapu merangsang sasaran untuk selalu siap (dalam arti sikap dan fikiran) dengan sukahati atas kesadaran ataupun pertimbangan nalarnya sendiri melakukan perubahan-perubahan demi perbaikan mutu hidupnya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Tujuan penyuluhan kehutanan adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau mendukung pembangunan kehutanan serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia.
Sasaran penyuluhan kehutanan adalah terwujudnya masyarakat mandiri berbasis pembangunan kehutanan.
Ø  Masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan
Ø  Kalangan dunia usaha yang bergerak di bidang penyuluhan
Ø  Aparat pemerintah yang terkait dengan pembangunan kehutanan
Ø  Kalangan tokoh adat, pemuka agama dan generasi muda

Falsafah atau pandangan hidup Penyuluhan Kehutanan adalah bekerja bersama masyarakat untuk membantunya untuk meningkatkan harkatnya.
Ø  Penyuluhan harus bekerja sama dengan masyarakat dan bukan bekeja untuk masyarakat
Ø      Penyuluhan tidak boleh mencipatakan ketergantungan
Mampu mendorong, memotivasi masyarakat sehingga tercipta kreatifitas dan kemandirian masyarakat agar memiliki kemampuan untuk berswakarsa, swadaya demi terselenggaranya kegiatan guna tercapainya tujuan
Ø    Penyuluhan di laksanakan harus mengacu kepada terwujudnya kesejahteraan ekonomi masyarakat
Keberhasilan penyuluhan kehutanan dapat dipergunakan kriteria sebagai berikut :
Ø  Berkembangnya secarapartisipatif Kelompok Masyarakat Produktif Mandiri (KMPM) berbasis pembangunan kehutanan.
Ø     Berkembangnya Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) sebagai penggerak utama pemberdayaan masyarakat.
Ø      Berkembangnya Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP).
Ø  Terwujudnya kesepahaman dan kesepakatan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian SDH yang berkelanjutan.
Ø    Pulihnya fungsi hutan, pengamanan dan perlindunganhutan serta meningkatnya manfaat hutan bagi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ø  Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang berdampak positif secara langsung atau tidak langsung terhadap perekonomian daerah.
Jumlah Penyuluh Kehutanan yang ada saat ini belum sebanding dengan luasan hutan yang ada, sehingga diperlukan partisipasi dari masyarakat untuk melakukan penyuluhan tentang kehutanan. Mengingat jumlah Penyuluh Kehutaanan PNS yang terbatas perlu di bantu dengan Penyuluh kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM). PKSM adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya ang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. PKSM merupakan peran serta masyarakat secara pribadi, kelompok yang mempunyai peran pada kegiatan penyuluhan yang tergerak pada peningkatan sumber daya alam dan perubahan sikap perilaku pada kehutanan.
Tugas PKSM di antaranya adalah
Ø  Melaksanakan kegiatan penyuluhan secara mandiri
Ø  Berperan aktif menumbuhkembangkan kegiatan penyuluhan kehutanan
Pemberdayaan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, produktifitas, kemampuan dan kemandirian masyarakat serta mengoptimalkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk mendukung keberhasilan pembangunan kehutanan.
Keberadaan PKSM yang bersifat perorangan, madiri dan independen menyebabkan PKSM merupakan pekerjaan yang kurang di minati oleh sebagian masyarakat dan cukup sulit untuk membentuk kader – kader PKSM yang bisa meluangkan waktu, tenaga dan sebagian biaya untuk perjalanan.




Kamis, 26 Maret 2020

BUDIDAYA JAMUR TIRAM


Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu kelompok jamur yang sudah dikenal dengan baik karena bentuk dan ukuran tubuh buahnya sangat familiar di masyarakat. Jamur tiram merupakan jenis jamur yang dapat dimakan (edible) dan memiliki rasa yang khas. Jamur tiram merupakan jamur kayu yang banyak tumbuh pada pokok-pokok kayu yang sudah lapuk, syarat tumbuh jamur tiram tergantung dari sumber nutrien, suhu, kelembapan, air, cahaya, udara dan keasaman
Pada tubuh buah jamur tiram memiliki batang yang berada di posisi pinggir tudung (pleurotus), serta bentuk jamur ini menyerupai tiram (ostreatus). Jamur tiram mempunyai banyak manfaat dalam bidang kesehatan antara lain dapat mencegah penyakit yaitu diabetes mellitus, tumor, kanker, dan kolesterol darah. Jamur tiram juga bermanfaat dalam menambah vitalitas, memperlancar buang air besar serta meningkatkan daya tahan tubuh (Muljowati, 2015).
Morfologi Jamur Tiram 
Jamur tiram adalah jamur kayu yang tumbuh berderet menyamping pada batang kayu lapuk. Jamur ini memiliki tubuh buah yang tumbuh mekar membentuk corong dangkal seperti kulit kerang (tiram). Tubuh buah ini memiliki tudung (pileus) dan tangkai (stipe/stalk). Pileus berbentuk mirip cangkang tiram berukuran 5 – 15 cm dan permukaan bagian bawah berlapis-lapis seperti insang berwarna putih dan lunak. Sedangkan tangkainya dapat pendek atau panjang (2 sd 6 cm) tergantung pada kondisi lingkungan dan iklim yang mempengaruhi pertumbuhannya. Tangkai ini menyangga tudung agak lateral di bagian tepi atau eksentris

Syarat Tumbuh Jamur Tiram 
Syarat tumbuh jamur tiram adalah sebagai berikut:
1.    Suhu. Pada suhu 25°C hingga 30°C miselium akan tumbuh optimal, sedangkan untuk pembentukan tubuh buah jamur, suhu yang dikehendaki adalah 18°C hingga 20°C.
2.    Tingkat keasaman atau pH. pH yang dikehendaki oleh miselum ini adalah 5,5 hingga 6,5. Pertumbuhan miselium dapat terhambat apabila kondisi pH terlalu asam atau terlalu basa. Pada pembentukan tubuh buah, kondisi keasaman agak netral yaitu pada pH 6,8 hingga 7,0. 
3.    Kelembaban. Pertumbuhan miselium membutuhkan kelembaban udara yaitu 65% hingga 70%. Dengan kadar air sekitar 60% miselium jamur akan tumbuh dengan baik. Pertumbuhan tunas dan tubuh buah akan tumbuh optimal pada kelembaban udara 80% hingga 85%. Jika kelembaban di bawah 80% maka tunas dan tubuh buah mengalami gangguan absorbsi nutrisi yang akan berakibat kekeringan. 
4.    Aerasi. Jamur tiram akan tumbuh optimal tanpa terkena sinar matahari langsung, selain itu juga pada lingkungan yang teduh dan sirkulasi udara yang lancar dengan angin spoi-spoi basah karena membutuhkan oksigen sebagai senyawa pertumbuhan atau bisa dikatakan semi anaerob. Oksigen juga akan mendukung pertumbuhan dari jamur, maka perlu adanya sirkulasi udara yang lancar, namun jika oksigennya terbatas akan mengganggu dalam pembentukan tubuh buah yaitu tubuh buah yang dihasilkan akan kecil dan abnormal. 
5.    Cahaya. Dalam keadaan gelap miselium akan tumbuh optimal, sedangkan tubuh buah akan tumbuh optimal pada kondisi yang agak terang, hal ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan buah (tangkai dan tudung). Jika cahaya kurang atau kurang dari 40 lux maka tangkai buah jamur akan tumbuh kecil dan tudung akan tumbuh abnormal. 
6.    Nutrisi. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram adalah ketersediaan nutrisi antara lain air, karbon, nitrogen, vitamin, dan unsur mineral. Air berguna sebagai kelancaran transportasi yaitu untuk kelancaran aliran partikel kimia antar sel, sedangkan karbon yang digunakan untuk sumber energi, nitrogen digunakan dalam sintesis protein, purin, dan pirimidin, vitamin digunakan sebagai katalisator, unsur mineral yang dibutuhkan adalah unsur makro dan mikro. Unsur makro yaitu P, K, Ca, Mg dan lain-lain, sedangkan unsur mikro antara lain Zn, Cu, dan lain-lain.

Siklus Hidup Jamur Tiram 

  1. Spora yang sudah masak atau dewasa jika berada di tempat yang lembab akan tumbuh dan berkecambah membentuk serat-serat halus menyerupai serat kapas, yang disebut dengan miselium atau miselia. 
  2. Jika keadaan lingkungan tempat tumbuh miselia itu baik, dalam arti temperatur, kelembapan, kandungan C/N/P-Rasio substrat tempat tumbuh memungkinkan, maka kumpulan miselia akan membentuk primordial atau bakal tubuh buah jamur.
  3. Bakal tubuh buah jamur tersebut kemudian akan membesar, dan pada akhirnya membentuk tubuh buah atau bentuk jamur yang kemudian dipanen. 
  4. Tubuh buah jamur dewasa akan membentuk spora. Spora ini tumbuh di bagian ujung basidium, sehingga disebut basidiospora. Jika sudah matang atau dewasa, spora akan jatuh dari tubuh buah jamur.

Media Tanam Jamur Tiram 
media tanam jamur tiram adalah sebagai berikut:
     ·           Serbuk kayu.
Serbuk kayu merupakan tempat tumbuh jamur kayu yang mengandung serat organik (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) sebagai sumber makanan jamur. 
·         Bekatul.
Bekatul merupakan hasil sisa penggilingan padi yang kaya vitamin, terutama vitamin B komplek, merupakan bagian yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur serta berfungsi sebagai pemicu untuk pertumbuhan tubuh buah jamur. 
·         Kapur.
Kapur digunakan sebagai pengatur pH media tanam dan sebagai sumber kalsium (Ca) yang dibutuhkan oleh jamur dalam pertumbuhannya. Jenis kapur yang digunakan dapat berupa kapur CaCO3 atau kapur bangunan yang biasa disebut dengan mill.
·          Air.
Air merupakan salah satu faktor untuk kelancaran dan pertumbuhan miselium, agar dapat membentuk spora. Bila kelebihan air maka jamur tiram putih akan mati karena jamur membutuhkan air dalam jumlah sedikit. Bila kadar air serbuk kayu gergaji >78%, maka substrat menjadi anaerobik dan miselium jamur tiram tidak dapat tumbuh dan berkembang, akhirnya miselium mati dan tubuh buah jamur tidak dihasilkan. 
·     Tepung jagung. Tepung jagung merupakan salah satu hal yang penting bagi media tumbuh jamur. Tepung jagung berfungsi sebagai nutrisi tambahan yang banyak mengandung nitrogen dan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Kandungan dan Manfaat Jamur Tiram 
Jamur tiram putih adalah salah satu jamur yang enak dimakan serta mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Jamur ini mengandung protein (27%), vitamin dan mineral. Vitamin–vitamin yang terkandung dalam jamur ini meliputi tiamin, riboflavin, niasin, biotin dan vitamin C. Mineral yang ada pada jamur ini meliputi kalium, kalsium, magnesium, besi, natrium, kuprum, sulfur dan fosfor. Jamur ini mengandung 18 jenis asam amino yang meliputi isoleucine, leucine, lysine, methionine, cystine, phenylalanine, tyrosine, threonine, tryptophan, valine, arginine, histidine, alanine, aspartat, asam glutamate, glysin, proline dan serine. Jamur ini juga memiliki sejumlah enzim, terutama tripsin yang sangat dibutuhkan dalam proses pencernaan dan tripsin ini sama dengan tripsin yang dihasilkan oleh kelenjar lambung
Langkah yang harus dipersiapkan untuk memulai budidaya jamur tiram putih

1.       Menyiapkan kumbung

Kumbung atau rumah jamur adalah tempat untuk merawat baglog dan menumbuhkan jamur. Kumbung biasanya berupa sebuah bangunan, yang diisi rak-rak untuk meletakkan baglog. Bangunan tersebut harus memiliki kemampuan untuk menjaga suhu dan kelembaban.
Kumbung biasanya dibuat dari bambu atau kayu. Dinding kumbung bisa dibuat dari gedek atau papan. Atapnya dari genteng atau sirap. Jangan menggunakan atap asbes atau seng, karena atap tersebut akan mendatangkan panas. Sedangkan bagian lantainya sebaiknya tidak diplester. Agar air yang digunakan untuk menyiram jamur bisa meresap.
Di dalam kumbung dilengkapi dengan rak berupa kisi-kisi yang dibuat bertingkat. Rak tersebut berfungsi untuk menyusun baglog. Rangka rak bisa dibuat dari bambu atau kayu. Rak diletakkan berjajar. Antara rak satu dengan yang lain dipisahkan oleh lorong untuk perawatan.
Ukuran ketinggian ruang antar rak sebaiknya tidak kurang dari 40 cm, rak bisa dibuat 2-3 tingkat. Lebar rak 40 cm dan panjang setiap ruas rak 1 meter. Setiap ruas rak sebesar ini bisa memuat 70-80 baglog. Keperluan rak disesuaikan dengan jumlah baglog yang akan dibudidayakan.
Sebelum baglog dimasukkan kedalam kumbung, sebaiknya lakukan persiapan terlebih dahulu. Berikut langkah-langkahnya:
·         Bersihkan kumbung dan rak-rak untuk menyimpan baglog dari kotoran.
·    Lakukan pengapuran dan penyemprotan dengan fungisida di bagian dalam kumbung. Diamkan selama 2 hari, sebelum baglog dimasukkan ke dalam kumbung.
·   Setelah bau obat hilang, masukkan baglog yang sudah siap untuk ditumbuhkan. Seluruh permukaannya sudah tertutupi serabut putih.

2.       Menyiapkan baglog

Baglog merupakan media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram. Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk jamur kayu. Baglog dibungkus plastik berbentuk silinder, dimana salah satu ujungnya diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan tumbuh menyembul keluar.
Pada usaha budidaya jamur tiram skala besar, petani jamur biasanya membuat baglog sendiri. Namun bagi petani pemula, atau petani dengan modal terbatas biasanya baglog dibeli dari pihak lain. Sehingga petani bisa fokus menjalankan usaha budidaya.
Saat ini, baglog jamur tiram yang berbobot sekitar 1 kg dijual dengan harga Rp. 2.000-2.500. Adapun bila ingin membuat sendiri silahkan baca cara membuat baglog jamur tiram.

Cara merawat baglog

Terdapat dua cara menyusun baglog dalam rak, yakni diletakkan secara vertikal dimana lubang baglog menghadap ke atas. Dan secara horizontal, lubang baglog menghadap ke samping.
Kedua cara ini memiliki kelebihan masing. Baglog yang disusun secara horizontal lebih aman dari siraman air. Bila penyiraman berlebihan, air tidak akan masuk ke dalam baglog. Selain itu, untuk melakukan pemanenan lebih mudah. Hanya saja, penyusunan horizontal lebih menyita ruang.

Berikut cara-cara perawatan budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut:
  •    Sebelum baglog disusun, buka terlebih dahulu cincin dan kertas penutup baglog. Kemudian diamkan kurang lebih 5 hari. Bila lantai terbuat dari tanah lakukan penyiraman untuk menambah kelembaban.
  •       Setelah itu, potong ujung baglog untuk memberikan ruang pertumbuhan lebih lebar. Biarkan selama 3 hari jangan dulu disiram.
  •         Lakukan penyiraman dengan sprayer. Penyiraman sebaiknya membentuk kabut, bukan tetesan-tetesan air. Semakin sempurna pengabutan semakin baik. Frekuensi penyiraman 2-3 kali sehari, tergantung suhu dan kelembaban kumbung. Jaga suhu pada kisaran 16-24oC.

    Panen budidaya jamur tiram 

    Bila baglog yang digunakan permukaannya telah tertutup sempurna dengan miselium, biasanya dalam 1-2 minggu sejak pembukaan tutup baglog, jamur akan tumbuh dan sudah bisa dipanen. Baglog jamur bisa dipanen 5-8 kali, bila perawatannya baik. Baglog yang memiliki bobot sekitar 1 kg akan menghasilkan jamur sebanyak 0,7-0,8 kg. Setelah itu baglog dibuang atau bisa dijadikan bahan kompos.
    Pemanenan dilakukan terhadap jamur yang telah mekar dan membesar. Pemanenan di lakukan di sembarang hari bisa pagi, siang ataupun sore hari. Jamur yang layak panen adalah jamur yang memiliki pertumbuhan tubuh yang sudah optimal. Selama satu periode tanam, jamur tiram dapat di panen sebanyak 4-8 kali tergantung kondisi yang menunjang.  Jarak panen pertama ke panen berikutnya berkisar 2-3 minggu.

    Adapun manfaat dari jamur tiram adalah sebagai berikut: 
    1.     Jamur tiram dapat menjadi sumber protein alternatif karena kadar protein jamur tiram lebih tinggi dibandingkan bahan makanan lain (jamur mengandung 19-35%, beras 7,3%, gandum 13,2% dan susu sapi 25,2%). 
    2.     Jamur tiram dapat dijadikan suplemen bagi para pelaku diet karena jamur tiram mengandung serat berupa lignoselulosa yang sangat baik bagi pencernaan. 
    3.    Jamur tiram dapat dijadikan sebagai makanan alternatif yang baik, khususnya bagi para penganut vegetarian dan penderita kolesterol tinggi. Kandungan gizi jamur setara dengan kandungan gizi pada daging, tetapi jamur tidak mengandung kolesterol jahat. 
    Kandungan senyawa pluran dalam jamur tiram dipercaya berkhasiat sebagai anti tumor dan anti kanker

Kamis, 20 Februari 2020

SISTEM AGROFORESTRY


Agroforestri adalah sistem budidaya tanaman kehutanan yang dilakukan bersama dengan tanaman pertanian / peternakan. Tanaman kehutanan yang dimaksud adalah tanaman pepohonan, sedangkan tanaman pertanian berkaitan dengan tanaman semusim.  sistem ini seringkali disebut dengan istilah “wanatani” yang merupakan gabungan dari kata “wana” dan “tani” yang berarti hutan tani. Pada prakteknya, agroforestri ialah suatu sistem pengelolaan lahan yang berguna untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan untuk meningkatkan produktivitas lahan.
Agroforestri merupakan suatu sistem pengelolaan lahan untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan peningkatan produktivitas lahan. Masalah yang sering timbul adalah alih fungsi lahan menyebabkan lahan hutan semakin berkurang. Agroforestri diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut dan masalah ketersediaan pangan.
System Agroforestry :
1. System Agroforestry sederhana
   Suatu system pertanian di mana pepohonan di tanam secara tumpangsari dengan satu / lebih jenis tanaman semusim
2. System Agroforestry kompleks
  Suatu system pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon baik sengaja di tanam maupun yang tumbuh secara alam pada sebidang lahan. Dalam system ini terdapat beraneka jenis pohon, juga di tanam tanaman perdu, tanaman memanjat ( liana ), tanaman semusim dan rerumputan.
Pola tanam agroforestry ada beberapa bentuk diantaranya :
  Ø  Trees Along Border ( pohon pembatas)
   Pola penanaman pohon di bagian pinggir lahan dan tanaman pertanian berada di bagian  tengah
Ø  Alternate Rows ( Baris )
   Model penanaman agroforestry yang menempatkan pohon dan tanaman pertanian secara berseling – selig. Pola ini di mungkinkan pada lahan yang relative datar
Ø  Alley cropping ( Pola lorong )
   Pola penanaman agroforestry yang menempatkan pohon – pohon di pinggir kanan dan kiri tanaman pertanian 
Ø  Random mixture ( acak )
   Pola penanaman acak, artinya tanaman pertanian dan pohon di tanam tidak teratur
Tujuan Agroforestry :
Ø  Meningkatkan produktifitas dan efisiensi pemanfaatan sumber daya lahan dan hutan
Ø  Meningkatkan kualitas sumber daya alam terutama tanah dan air
ØMeningkatkan kesejahteraan  masyarakat dan peran sertanya dalam melindungi sumber daya alam
Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Namun sistem Agroforestri telah dipraktekan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad dengan nama dan istilah yang berbeda-beda.
Berikut ini beberapa manfaat dari agroforestry:
  • Membantu penggunaan lahan secara optimal sehingga dapat memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat
  • Mengurangi aliran permukaan, pencucian hara dan erosi tanah
  • Meningkatkan persediaan pangan pada tiap musim, sehingga petani dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun untuk memperoleh manfaat ini, maka petani harus memperhatikan kualitas nutrisi, pemasaran serta setiap proses yang terjadi pada agroforestri
  • Memperbaiki penyediaan energi lokal terutama produksi kayu bakar
  • Meningkatkan dan memperbaiki produksi bahan mentah hasil kehutanan maupun pertanian. Umumnya peningkatan produksi bahan mentah ini dilakukan secara kualitatif dan diversifikasi. Selain itu, biasanya juga dilakukan dengan memanfaatkan berbagai jenis pohon dan perdu
  • Memperbaiki kualitas hidup terutama di daerah pedesaan, terutama di daerah miskin. Agroforestri dapat meningkatkan pendapatan serta tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat
  • Meningkatkan kinerja usia produktif (usia muda) di pedesaan sehingga kualitas hidup dapat meningkat
  • Memelihara dan memperbaiki kemampuan dan kelestarian lingkungan setempat. Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya erosi tanah dan degradasi lingkungan
Pada dasarnya agroforestri mempunyai komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan. Penggabungan komponen-komponen yang termasuk dalam agroforestri dikenal dengan nama :
·  Agrisilvikultur merupakan Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pohon, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian.
·  Silvopastura merupakan Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan.
Wujud dalam silvopastura yaitu dalam suatu kawasan hutan di tanami rumput atau sejenisnya tanpa merusak tegakan hutan. Bentuk silvopastura dapat di terapkan dalam kawasan hutan yang penduduknya mengembangkan usaha ternak tetapi tidak memiliki tempat penggembalaan. Sehingga lahan di bawah tegakan hutan dapat di tanami rumput yang di manfaatkan untuk pakan ternak.

·  Silvofeshry merupakan Kombinasi antara komponen kehutanan dan komponen perikanan.

·       Apiculture merupakan kombinasi pohon dan lebah

·       Sericulture merupakan kombinasi pohon dan ulat sutera

Keunggulan Agroforestri
Ada beberapa keunggulan dari pengembangan agroforestri, antara lain rendahnya modal dan biaya tenaga kerja yang akan digunakan. Sebab, produktivitas lahan melalui siklus unsur hara dan perlindungan tanah mampu dilakukan dengan modal yang murah dan sedikit tenaga kerja.
Selain itu, agroforestri juga dapat meningkatkan nilai output pada suatu area lahan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya penanaman campuran antara pohon dan spesies lainnya. Agroforestri juga dapat mendiversifikasi kisaran output dengan tujuan untuk meningkatkan swasembada. Diversifikasi dapat mengurangi hilangnya pendapatan yang mungkin terjadi terutama ketika cuaca buruk atau karena pengaruh faktor biologi dan faktor pasar.

      Kelemahan Agroforestri

Selain memiliki kelebihan, tentunya agroforestri juga memiliki beberapa kelemahan, misalnya dapat mengurangi hasil tanaman pokok karena pohon-pohon yang ada akan bersaing dalam perolehan zat hara, cahaya matahari dan air.
Selain itu, sistem ini juga menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian pohon dengan kegiatan pertanian, contohnya aktivitas pembakaran dan pemakaian lahan bersama yang akan membuat perlindungan terhadap pohon menjadi berkurang.
Di harapkan dengan system agroforestry dapat menjadi suatu solusi masalah kemiskinan. Dalam kegiatan in masyarakat dapat memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan yang menghasilkan tanaman pangan di antara tanaman hutan. Selain itu masyarakat dapat mengembangkan tanaman pekarangan, kebun, pemeliharaan hutan sekunder dan kawasan hutan lindung sekitar desa untuk perlindungan tata air dan mengelola hasil hutan dengan pemanfaatan hasil hutan non kayu.
Tujuan akhir program agroforestri adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat petani, terutama yang di sekitar hutan, yaitu dengan memprioritaskan partisipasi aktif masyarakat dalam memperbaiki keadaan lingkungan yang rusak dan berlanjut dengan memeliharanya. Program-program agroforestri diarahkan pada peningkatan dan pelestarian produktivitas sumberdaya, yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Tujuan tersebut diharapkan dapat dicapai dengan cara mengoptimalkan interaksi positif antara berbagai komponen penyusunnya (pohon, produksi tanaman pertanian, ternak/hewan, perikanan) atau interaksi antara komponen-komponen tersebut dengan lingkungannya.